JAKARTA, DDTCNews - Realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sepanjang Januari-Mei 2026 tercatat Rp226,4 triliun, tumbuh 19,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai setoran PNBP menggambarkan aktivitas ekonomi yang tetap berjalan positif. Adapun kinerja PNBP mencapai 49,3% dari target yang ditetapkan pada APBN 2026 sebesar Rp459,2 triliun.
"PNBP tumbuh positif dan sampai dengan Mei [realisasinya] mencapai 49,3% dari APBN," ujarnya, dikutip pada Minggu (7/6/2026).
Lebih lanjut, Purbaya memaparkan PNBP bersumber dari 4 komponen penerimaan, yaitu PNBP SDA migas yang terkumpul senilai Rp47,7 triliun atau tumbuh 15,3% karena didorong kenaikan Indonesia crude price (ICP).
Kemudian, PNBP SDA nonmigas terkumpul senilai Rp65,8 triliun, tumbuh 15,6%. Pertumbuhan setoran tersebut turut didorong oleh kenaikan harga mineral seperti nikel, tembaga, emas dan perak.
Berikutnya, PNBP kementerian/lembaga (K/L) terealisasi Rp70,5 triliun, melonjak 49,4%. Lonjakan setoran PNBP K/L ini lantaran didorong pendapatan jasa komunikasi dan informasi, serta pendapatan dari denda administratif di bidang kehutanan hasil kerja Satgas PKH.
Selanjutnya, PNBP dari badan layanan umum (BLU) terealisasi Rp40,9 triliun, tumbuh 26,7%. Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh kenaikan pendapatan jasa pelayanan kesehatan dan tarif pungutan ekspor CPO dan turunannya.
Perlu diingat, PNBP kekayaan negara yang dipisahkan atau disebut juga PNBP dari dividen BUMN, kini tidak diperhitungkan karena penerimaannya dikelola oleh Danantara. Tanpa dividen BUMN, kinerja PNBP menjadi Rp224,9 triliun, tumbuh 26,4%. (rig)
