PMI MANUFAKTUR

PMI Manufaktur Menurun, Kepala BKF: Masih di Zona Ekspansif

Redaksi DDTCNews
Selasa, 01 Maret 2022 | 16.20 WIB
PMI Manufaktur Menurun, Kepala BKF: Masih di Zona Ekspansif

Ilustrasi. Pekerja melakukan uji coba pada mesin pengolah makanan otomatis buatannya sebelum di ekspor ke Australia, Myanmar dan Malaysia di sebuah industri manufaktur sub sektor mesin di Purwantoro, Malang, Jawa Timur, Selasa (23/6/2020). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hp)

JAKARTA, DDTCNews – Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari 2022 berada pada level 51, atau turun dari posisi bulan sebelumnya mencapai 53,7.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu mengatakan PMI manufaktur pada Februari 2022 masih berada pada zona ekspansif, meskipun levelnya lebih rendah ketimbang PMI manufaktur pada Januari 2022.

“Indeks PMI yang masih berada di zona ekspansif ini mencerminkan bahwa dampak penyebaran Omicron relatif terbatas pada ekonomi Indonesia, khususnya sektor industri ketimbang gelombang Delta sebelumnya,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (1/3/2022).

Febrio menjelaskan puncak penyebaran varian Delta terjadi pada Juli 2021. Kala itu, sektor industri terpukul dengan PMI Manufaktur menyentuh level kontraksi di angka 40. Pada Februari 2022, PMI manufaktur masih di atas 50, meskipun di tengah puncak penyebaran Omicron.

“Pemerintah akan terus fokus pada upaya penanganan pandemi termasuk mempercepat vaksinasi dan vaksinasi booster yang terbukti menjadi game changer pada perekonomian,” ujarnya.

Tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran program pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk 2022 senilai Rp455,62 triliun. Dari jumlah tersebut, anggaran senilai Rp122,54 triliun akan digunakan untuk penanganan kesehatan.

Kemudian, program perlindungan masyarakat mendapatkan dana Rp154,76 triliun dan dana untuk penguatan pemulihan ekonomi dialokasikan senilai Rp178,32 triliun.

Di sisi lain, Febrio menuturkan aktivitas pembelian bahan baku atau barang modal terpantu tetap kuat di tengah masa penyebaran varian Omicron. Tingkat penyerapan tenaga kerja juga terindikasi makin cepat seiring dengan kebutuhan dunia usaha untuk berproduksi.

“Bahkan laju penyerapan tenaga kerja ini tumbuh dengan mencapai level tertinggi sejak Februari 2020,” ujarnya. (rig)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.